Aku merupakan anak ke empat dari empat bersaudara. Keluargaku sangat menyayangiku. Tetapi aku lebih sayang dengan Ibu. Entah kenapa, Ibu juga sangat menyayangiku. Hal ini terjadi mungkin karena aku anak paling bontot, atau mungkin juga karena semua kakakku telah berkeluarga. Jadi hanya aku saja yang tinggal bersama kedua orang tuaku. Saat itu aku merasa sangat bahagia, karena semua yang aku mau bisa dipenuhi oleh mereka. Selain itu aku juga sangat dimanjakan oleh mereka, lebih-lebih oleh Ibuku.
Hari demi hari kulewati dengan senyuman. Hal itu hanya sementara saja. Kejadian ini bermula ketika pada suatu malam, tiba-tiba Ibuku menjerit-jerit ketakutan. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu. Entah kenapa Ibu sampai begitu. Setelah beberapa saat kemudian Ibu dibawa ke rumah sakit.
Sejak saat itu Ibu sering keluar masuk rumah sakit. Dan yang membuat aku dan keluargaku bingung, Dokter tidak mengetahui penyakit apa yang diderita Ibu. Sudah banyak cara yang dilakukan keluargaku untuk menyembuhkan Ibu. Mulai dari cara medis maupun non nonmedis. Dan cara itu cukup membuahkan hasil yang membahagiakan. Sampai Ibu bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Walaupun Ibu masih bergantung pada obat-obatan tetapi hal itu membuatku sedikit merasa lega. Saat itu Ibu sebenarnya tidak boleh melakukan hal-hal berat dan harus banyak istirahat, tetapi Ibu tidak menghiraukan hal itu bahkan beliau masih giat bekerja seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada dirinya.
Beberapa lama kemudian Ibu kembali terbaring dan harus dirawat di rumah sakit. Saat itu keadaan Ibu sudah kritis. Dan Ibu juga harus dirawat di ruang ICU. Setelah beberapa lama Ibu dirawat, keadaan Ibu tidak menunjukkan suatu perkembangan yang berarti, malahan semakin memburuk. Hingga pihak rumah sakit memberitahu pada keluargaku bahwa sudah tidak sanggup merawat Ibu. Dan tidak hanya itu, pihak rumah sakit juga tidak dapat mendeteksi penyakit apa yang diderita Ibu. Karena itu Ibuku disarankan untuk berobat ke salah satu rumah sakit di Jogja.
Mendengar hal itu keadaan keluargaku semakin drop. Dan setelah keluargaku berunding, kemudian Ibu dibawa pulang dahulu. Setelah itu Insya Allah akan dibawa berobat ke Jogja. Dengan pertimbangan saat itu mendekati perayaan hari besar umat Islam serta keadaan ekonomi keluarga yang semakin memburuk.
Akhirnya Ibu dibawa pulang ke rumah. Dan semenjak itu rumahku tidak pernah sepi, banyak tetangga dan kerabat yang datang ke rumah untuk menjenguk Ibu. Setiap malam di rumahku juga diadakan doa bersama disertai dengan membaca ayat-ayat suci Al-Quran.
“Ya Allah, semoga dengan datangnya hari Fitri nanti ada sebuah mukziat untuk Ibu,” kata yang aku ucapkan dalam hati diiringi deru suara takbir.
Tetapi di hati Fitri itu, ternyata Allah berkata lain Ibuku tersayang berpulang ke Rahmatullah. Tepat pada hari Idul Fitri (hari besar umat Islam). “Ibu, kenapa engkau pergi meninggalkanku?” kataku dengan suara lirih.
Saat itu keadaan rumahku banjir air mata. Semua orang yang datang saat itu meneteskan air mata, begitu juga aku. Keluargakupun masih tidak percaya dan sampai jatuh pinsan. Ku tak melihat seorang pun yang tersenyum saat itu. Hanya tatapan kosong yang kulihat.
Ketika Ibu akan dibawa ketempat pembaringan, tidak ada anggota keluargaku yang sanggup melihat wajah Ibu. Tetapi entah kenapa aku sangat ingin melihat wajah Ibu. Sempat terbesit olehku, Ibu dapat kembali padaku. Tetapi aku sadar itu hanyalah sebuah angan semata. Walaupun sebenarnya keluargaku tidak mengizinkannya. Tetapi aku tetap nekat untuk melihat wajah Ibu yang terakhir kalinya. Dan Ibu tersenyum padaku. ”Ibu, Ibu, Ibu!” teriakku dalam hati. Setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi pada diriku.
Dan inilah saat dimana seharusnya aku dan keluargaku berkumpul dengan penuh kebahagiaan, tetapi di hari fitri ini sebaliknya. Kebahagiaan itu berubah menjadi sebuah kepedihan. Ini pengalaman hidup yang tidak akan pernah lupakan.
Hal ini terjadi saat aku duduk diakhir kelas 4 Sekolah Dasar dan aku merasa hal itu seperti mimpi, dan terlalu cepat bagiku. Keluargaku sangat terpukul dengan kejadian ini, terlebih aku. Tetapi saat itu keluargaku berusaha menghiburku agar aku tidak larut dalam kesedihan. Mereka melakukan itu karena mereka tau kalau selama ini aku sangat bergantung pada Ibu dan sangat dimanjakan olehnya.
Hari demi hari, tahun demi tahun aku lewati dengan begitu berat. Tidak terasa sudah 8 tahun Ibu pergi meninggalkanku. Hingga aku sekarang sudah duduk di bangku perkuliahan. Dan aku yang dahulu sangat manja dan sangat bergantung pada sosok seorang Ibu. Akhirnya bisa tumbuh menjadi aku yang lebih mandiri dan tegar dalam menghadapi hidup.
Walaupun sampai saat ini aku belum bisa menjadi anak yang seperti Ibu harapkan. Tetapi aku akan terus berusaha. Ini semua untuk Ibu dan keluarga. Terima kasih Ibu. Aku akan selalu mendoakanmu.
Riana Estriani


1 komentar:
aku kudu njaluk royalti iki.... iku judule sg gae aku,,, haha
Posting Komentar